Developmentally Appropriate Practice

Developmentally Appropriate Practice

Pendidikan yang dilaksanakan seharusnya disesuaikan dengan tahap perkembangan anak serta bagaiamana anak belajar. Sehingga pendidikan pada anak tidak berarti sebagai program ”pemaksaan” terhadap anak untuk melakukan sesuatu atau untuk memiliki suatu kemamuan sesuai keinginan orang dewasa tanpa mempertimbangkan kondisi anak. Salah satu konsep yang relevan dengan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan anak adalah konsep Developmentally Appropriate Practice (DAP) atau dalam bahasa Indonesia berarti ”Pendidikan yang patut sesuai dengan tahapan perkembangan anak”.

Saat ini sudah semakin disadari bahwa pendidikan sangat penting bahkan dimulai sejak anak lahir. Bahkan yang lebih menarik lagi, pendidikan dapat dimulai semenjak anak masih dalam kandungan. Pentingnya pendidikan sejak dini karena didorong oleh berbagai teori belajar yang menyebutkan bahwa pada usia tersebutlah berbagai aspek perkembangan mengalami masa yang sangat cepat dan menentukan.

Menurut Sue Bredekamp (1987), Setiap anak adalah pribadi yang unik berikut dengan pola dan jadwal perkembangannya, seperti kepribadian, gaya belajar, dan latar belakang keluarga. Baik kurikulum dan interaksi orang dewasa dengan anak harus memperhatikan perbedaan individu. Belajar bagi anak-anak adalah hasil dari interaksi antara cara berpikir anak dengan pengamalan bersama benda konkrit, pendapat (ide), dan orang lain. 

Sebelum lebih jauh dalam pembahsan ini terlebih dahulu kita lihat tentang lahirnya konsep DAP. Konsep DAP muncul karena banyaknya kurikulum yang dikembangkan di sekolah-sekolah Amerika pada kurun waktu tahun 1960-an sampai 1970-an yang tidak sesuai dengan tahapan perkembangan anak, khususnya untuk anak usia di bawah 8 tahun. Kurikulum-kurikulum tersebut dianggap telah gagal menghasilkan siswa yang dapat berpikir kritis dan dapat menyelesaikan berbagai permasalahan dalam kehidupan (Bredekamp, et.al., 1992, dalam Megawangi, 2005).

 

  1. A.     Pengertian dari Konsep DAP

Menurut Sue Bredekamp (1987), konsep dari DAP memiliki dua dimensi, yiatu : patut menurut usia (age appropriate) dan patut menurut anak sebagai individu yang unik (individual appropriate). Sementara Gary Glassenapp (Megawangi, 2005) menambahkan 1 dimensi lagi, yaitu : patut menurut lingkungan dan budaya.

Patut menurut usia (age appropriate)

Penelitian tentang perkembangan manusia menunjukkan bahwa proses perkembangan bersifat universal serta urutan perkembangan dapat diprediksikan dan ini terutama terjadi pada anak usia sampai 9 tahun (Bredekamp, 1987). Perkembangan yang dapat diprediksikan ini terjadi pada seluruh domain perkembangan seperti fisik, emosi, sosial, dan kognitif. Pengetahuan tentang berbagai ciri perkembangan anak pada berbagai jenjang usia atau program pendidikan akan memberikan kerangka kerja bagi guru.  Secara umum, tahapan perkembangan anak dapat memberikan pengetahuan tentang aktivitas, materi, pengalaman, dan interaksi sosial apa saja yang sesuai, menarik, aman, mendidik, dan menantang bagi anak.

Memahami teori perkembangan anak adalah penting untuk menyusun program pendidikan sesuai dengan konsep DAP. Berikut ini adalah sekilas teori perkembangan anak yang relevan dengan konsep DAP, seperti yang uraikan dalam Megawangi (2005).

  1. Teori Perkembangan Kognitif (Jean Piaget)

Piaget (1896 – 1980) sangat terkenal dengan teorinya tentang bagaimana seorang anak belajar melalui tindakan yang dilakukannya. Menurutnya, pemahaman anak dibangun (constructed) melalui action,sehingga teori ini sering disebut juga dengan teori ”constructivism”. Seorang anak dapat memahami suatu konsep melalui pengalaman konkrit.

  1.  Teori Perkembangan Emosi (Erik Erikson)

Erik Erikson (1902 – 1994) berpendapat bahwa perkembangan emosi positif sangat penting dalam perkembangan jiwa anak, dan ini sangat tergantung pada peran orang tua dan guru. Setiap anak akan dihadapkan pada dua keadaan yang saling bertolak belakang : emosi positif dan emosi negatif. Pada setiap tahapan perkembangan, seseorang akan mengalami konflik tarik menarik antara kedua emosi tersebut, keberhasilan dalam mengelola konflik ini terwujud apabila anak dapat mencapai emosi positif.

  1. Teori Sosio Kultural (Vigotsky)

Vigotsky (1896 – 1934) berpendapat sama dengan Piaget bahwa cara belajar yang efektif melalui praktek nyata (action). Anak-anak akan lebih mudah memahami konsep baru ketika mereka mencoba memecahkan suatu masalah dengan objek konkrit.

  1. Teori Perkembangan Moral (Kohlberg dan Thomas Lickona)

Kohlberg adalah seorang pionir dalam menyususn tahapan perkembangan moral anak dengan memodifikasi teori Piaget. Sedangkan Thomas Lickona mengembangan lebih lanjut teori ini sampai pada bagaimana metode pendidikan karakter dapat dijalankan secara konkrit bagi orang tua dan guru.

  1. Teori Ekologi dan Kontekstual (Bronfenbrenner)

Bronfenbrenner mengembangkan teori perkembngan anak yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang melingkupi kehidupan manusia.

  1. Brain Based Learning

Manusia mempunyai kemampuan alami untuk belajar, asalkan tidak bertentangan dengann prinsip bekerjanya struktur dan fungsi otak. Sistem sekolah tradisional sering tidak sesuai dengan prinsip alami ini, sehingga justru menghambat proses belajar. Perhatian terhadap otak dan fungsinya tidak hanya diarahkan pada bagian-bagian otak yang memiliki fungsi berbeda-beda, tetapi kepada sistem otak itu sendiri sebagai satu kesatuan.

  1. Multiple Intelligences (Howard Gardner)

Cara tradisional mengukur kepandaian seseorang adalah dengan tes IQ. Padahal ukuran IQ hanya terbatas pada kemampuan kognitif dan verbal saja.

 

 

Tahapan perkembangan praktek-praktek yang sesuai (DAP) menggambarkan pendekatan untuk pendidikan yang berfokus pada anak sebagai pembelajar kehidupan manusia berkembang dan panjang. Pendekatan ini mengakui anak sebagai peserta aktif dalam proses pembelajaran; seorang peserta yang membangun makna dan pengetahuan melalui interaksi dengan orang lain, teman dan keluarga, material dan lingkungan. Guru adalah fasilitator yang aktif membantu anak membuat arti dari berbagai kegiatan dan interaksi ditemui sepanjang hari.

Fokus Pada Individualisasi 

Meskipun disiplin masing-masing memiliki basis filosofis sendiri yang unik, praktik mutu terbagi yang baik untuk semua anak dapat diidentifikasi. Kedua pendidikan anak usia dini dan pendidikan anak usia dini khusus percaya pada pentingnya individualisasi. Ini adalah prinsip utama pendidikan khusus dalam menyediakan strategi intervensi spesifik sesuai untuk setiap anak dan untuk pengembangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

REFERENSI

-          http://ramlimpd.blogspot.com/2010/11/developmentally-appropriate-practice.html

-          http:// Prinsip Pembelajaran Yang Efektif.Com/28/02/2008 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: