Pengaruh Lingkungan Dalam Proses Pembentukan Konsep Diri (Self-Concept)

Manusia adalah makhluk sosial yang satu sama lain saling membutuhkan. Dalam interaksi sosialnya dengan sesama manusia, juga sangat dipengaruhi dengan lingkungan dimana manusia membentuk konsep dirinya dan juga kehidupan sosialnya. Oleh karena itu, tidak berlebihan bila ada penjulukan manusia selain makhluk sosial juga sebagai makhluk lingkungan. Maka studi perilaku manusia sedikit banyak merupakan pendekatan ilmu alam yang secara keilmuan mulai diperkenalkan pada akhir abad ke 19 oleh Wilhelm Wundt, orang pertama yang memproklamirkan psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu yang ditandai dengan berdirinya laboratorium Leipzig, di Jerman.

Pada tahun 1930 mulai diperkenalkan cabang ilmu psikologi sosial yang objek material dari psikologi sosial adalah fakta-fakta, gejala-gejala serta kejadian-kejadian dalam kehidupan sosial manusia. Sekilas ternyata objek psikologi sosial mirip dengan ilmu sosiologi dan bila digambarkan sebenarnya psikologi sosial adalah merupakan pertemuan irisan antara ilmu psikologi dan ilmu sosiologi

 

 
   

 

 

 

 

Sedangkan hubungan manusia dan lingkungan telah banyak ditemukanketidakcocokan antara manusia dan lingkungannya. Pada tahun 1950 an, psikolog mulai memecahkan masalah-masalah ini melalui pengembangan perencanaan. Sebuah bidang kajian yang dimulai dengan meneliti warna, susunan tempat dudukdi rumah sakit-rumah sakit jiwa, lalu melakukan observasi di taman-taman nasional dan sampai mempelajari stress yang terasosiasi dengan pergerakan kota (urban communiting). Penelitian tersebut, pada akhirnya melahirkan sebuah disiplin dengan nama psikologi lingkungan. Objek materialnya meliputi : lingkungan psiko-sosial, lingkungan belajar, lingkungan informasi dan lingkungan binaan. Pertanyaannya, seberapa besar lingkungan mempengaruhi manusia dalam membentuk konsep diri-sosial?

Pengertian Konsep Diri

Masalah-masalah rumit yang dialami manusia, seringkali dan bahkan hampir semua sebenarnya berasal dari dalam diri. Mereka tanpa sadar menciptakan mata rantai masalah yang berakar dari problem konsep diri. Dengan kemampuan berpikir dan menilai, manusia malah suka menilai yang macam-macam terhadap diri sendiri maupun sesuatu atau orang lain – dan bahkan meyakini persepsinya yang belum tentu obyektif. Dari situlah muncul problem seperti inferioritas, kurang percaya diri, dan hobi mengkritik diri sendiri.

 

Konsep diri dapat didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Definisi yang lebih rinci lagi adalah sebagai berikut :

a. Konsep diri adalah keyakinan yang dimiliki individu tentang atribut (ciri-ciri sifat ) yang dimiliki (Brehm & Kassin, 1993).

b. Atau juga diartikan sebagai pengetahuan dan keyakinan yang dimilki individu tentang karakteristik dan ciri-ciri pribadinya (Worchel, 2000).

c. Definisi lain menyebutkan bahwa Konsep diri merupakan semua perasaan dan pemikiran seseorang mengenai dirinya sendiri. Hal ini meliputi kemampuan, karakter diri, sikap, tujuan hidup, kebutuhan dan penampilan diri

 

Seseorang dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika ia meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Orang dengan konsep diri negatif akan cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Orang dengan konsep diri negatif, akan mudah menyerah sebelum berperang dan jika gagal, akan ada dua pihak yang disalahkan, entah itu menyalahkan diri sendiri (secara negatif) atau menyalahkan orang lain.

Sebaliknya seseorang dengan konsep diri yang positif akan terlihat lebih optimis, penuh percaya diri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya. Kegagalan bukan dipandang sebagai kematian, namun lebih menjadikannya sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah ke depan. Orang dengan konsep diri yang positif akan mampu menghargai dirinya dan melihat hal-hal yang positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang.

Ada dua komponen dalam konsep diri yaitu komponen kognitif dan komponen afektif. Komponen kognitif disebut sebagai citra diri (self image) sedangkan komponen afektif adalah harga diri (self esteem).

 

Pembentukan Konsep diri

 

Konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seorang manusia dari kecil hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman dan pola asuh orang tua turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri yang terbentuk. Sikap atau respon orang tua dan lingkungan akan menjadi bahan informasi bagi anak untuk menilai siapa dirinya. Oleh sebab itu, seringkali anak-anak yang tumbuh dan dibesarkan dalam pola asuh yang keliru dan negatif, atau pun lingkungan yang kurang mendukung, cenderung mempunyai konsep diri yang negatif. Hal ini disebabkan sikap orang tua yang misalnya : suka memukul, mengabaikan, kurang memperhatikan, melecehkan, menghina, bersikap tidak adil, tidak pernah memuji, suka marah-marah, dsb – dianggap sebagai hukuman akibat kekurangan, kesalahan atau pun kebodohan dirinya. Jadi anak menilai dirinya berdasarkan apa yang dia alami dan dapatkan dari lingkungan. Jika lingkungan memberikan sikap yang baik dan positif, maka anak akan merasa dirinya cukup berharga sehingga tumbuhlah konsep diri yang positif.

 

Konsep diri ini mempunyai sifat yang dinamis, artinya tidak luput dari perubahan. Ada aspek-aspek yang bisa bertahan dalam jangka waktu tertentu, namun ada pula yang mudah sekali berubah sesuai dengan situasi sesaat. Misalnya, seorang merasa dirinya pandai dan selalu berhasil mendapatkan nilai baik, namun suatu ketika dia mendapat angka merah. Bisa saja saat itu ia jadi merasa “bodoh”, namun karena dasar keyakinannya yang positif, ia berusaha memperbaiki nilai.

 

Dalam konsep diri ini terdapat beberapa unsur antara lain:

1. Penilaian diri merupakan pandangan diri terhadap:

  • Pengendalian keinginan dan dorongan-dorongan dalam diri. Bagaimana kita mengetahui dan mengendalikan dorongan, kebutuhan dan perasaan-perasaan dalam diri kita.
  • Suasana hati yang sedang kita hayati seperti bahagia, sedih atau cemas. Keadaan ini akan mempengaruhi konsep diri kita positif atau negatif.
  • Bayangan subyektif terhadap kondisi tubuh kita. Konsep diri yang positif akan dimiliki kalau merasa puas (menerima) keadaan fisik diri sendiri. Sebaliknya, kalau merasa tidak puas dan menilai buruk keadaan fisik sendiri maka konsep diri juga negatif atau akan jadi memiliki perasaan rendah diri.

2. Penilaian sosial merupakan evaluasi terhadap bagaimana individu menerima penilaian lingkungan sosial pada diri nya. Penilaian sosial terhadap diri yang cerdas, supel akan mampu meningkatkan konsep diri dan kepercayaan diri. Adapun pandangan lingkungan pada individu seperti si gendut, si bodoh atau si nakal akan menyebabkan individu memiliki konsep diri yang buruk terhadap dirinya.

3. Konsep lain yang terdapat dalam pengertian konsep diri adalah self image atau citra diri, yaitu merupakan gambaran:

  • Siapa saya, yaitu bagaimana kita menilai keadaan pribadi seperti tingkat kecerdasan, status sosial ekonomi keluarga atau peran lingkungan sosial kita.
  • Saya ingin jadi apa, kita memiliki harapan-harapan dan cita-cita ideal yang ingin dicapai yang cenderung tidak realistis. Bayang-bayang kita mengenai ingin jadi apa nantinya, tanpa disadari sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokoh ideal yang yang menjadi idola, baik itu ada di lingkungan kita atau tokoh fantasi kita.
  • Bagaimana orang lain memandang saya, pertanyaan ini menunjukkan pada perasaan keberartian diri kita bagi lingkungan sosial maupun bagi diri kita sendiri.

 

Konsep diri yang terbentuk pada diri juga akan menentukan penghargaan yang berikan pada diri. Penghargaan terhadap diri atau yang lebih dikenal dengan self esteem ini meliputi penghargaan terhadap diri sebagai manusia yang memiliki tempat di lingkungan sosial. Penghargaan ini akan mempengaruhi dalam berinteraksi dengan orang lain.

 

Faktor Lingkungan terhadap Pembentukan Konsep diri.

 

Kita mungkin patut mempertanyakan, mengapa beberapa bagian kota terlihat sukses dan lainnya tidak? Mengapa orang-orang lebih senang tinggal di lingkungan tertentu dibandingkan dengan lainnya? Kenapa anak belajar lebih baik pada sebuah lingkungan ketimbang lingkungan lainnya?. Seringkali orang bertindak secara instinctive. Mereka melakukan sesuatu berdasarkan naluri untuk alas an yang tidak dapat mereka jelaskan secara pasti. Setiap orang memiliki perasaan dasar, yang secara bawah sadar menjadi kekutan yang mendasari perilakunya. Kekuatan ini sering juga disebut sebagai NILAI.

 

Nilai adalah sesuatu yang bertahan lama dan menjadi penopang psikologis semua makhluk hidup. Nilai memberi manusia kerangka berfikir, dimana manusia merencanakan dan membangun kehidupannya. Nilai dibuat untuk sebuah tujuan akhir. Misalnya, kita mengharapkan kehidupan yang relative tidak rumit, produktif, aktif dan menarik. Kita menginginkan memiliki rumah yang tidak terlalu kecil, memiliki halaman yang nyaman dan mudah diurus. Orang lain mungkin memiliki rumah yang cukup luas, memiliki kolam renang dan garasi untuk parkir mobil mewah milik pribadi.

 

Semua orang memiliki nilai individual yang berbeda dalam hidupnya dan dipenuhi dengan berbagai cara. Sebagai contoh, pengalaman masa kecil yang miskin akan mendorong keinginan untuk mencuri di masa dewasa atau malah menjadi seorang dermawan. Tidak adanya privasi di masa kanak-kanak (di mana bisa juga akibat budaya) dapat menghasilkan efek yang bervariasi terhadap setiap orang.

 

Nilai Mempengaruhi Lingkungan.

 

Lingkungan dapat sangat mempengaruhi manusia, tidak peduli berapapun usianya. Misalnya pada kasus ekstreem pada anak-anak yang tinggal di pemukiman kumuh, kehidupan ekonomi yang tidak baik, pola asuh orang tua yang tidak berfungsi dengan baik. Seseorang yang hidup dalam lingkungan tersebut terikat pada nilai yang didapatnya dari pengalaman tersebut. Seringkali kriminalitas muncul akibat pengalamannya tersebut. Namun perasaan hidup yang lebih bersih dan teratur bisa juga muncul dari pengalaman tersebut. Tidak ada yang bisa meramalkan perilaku manusia. Kita hanya bisa mengatakan pengalaman apa yang mempengaruhi lingkungannya.

 

Contoh lainnya adalah berdasarkan penelitian, tingkat stress pada masyarakat kota lebih besar dibanding masyarakat di desa. Kemacetan lalu lintas, polusi udara, polusi air, mahalnya biaya hidup adalah beberapa faktor penyebab tingginya tingkat stress pada masyarakat kota. Berdasarkan gejala-gejala tersebut, orang mulai memikirkan bagaimana pola pemukiman yang baik yang dapat membuat orang hidup lebih nyaman dan terlindungi.

 

Lingkungan hidup sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai manusia. Seringkali keberadaan materi-materi lingkungan seperti rumah tinggal, jalan raya dan sebagainya hanya dianggap sebagai materi fisik belaka. Padahal lebih dari itu keberadaannya berupa fisik juga mempengaruhi nilai-nilai dalam blok-blok persepsi dan psikologi manusia. Meskipun pada awalnya manusia yang membentuk bangunan dan lingkungan, namun selanjutnya bangunan dan lingkungan menjadi kekuatan yang membentuk konsep diri-sosial.

 

Lingkungan Mempengaruhi Nilai.

 

Manusia dipengaruhi oleh ruang dan lingkungannya. Orang lebih bisa menerima ruang dan lingkungannya jika itu membuatnya merasa nyaman. Memasang karpet di kantor akan membuat para karyawan merasa lebih dihargai. Pengaturan jarak tempat duduk yang baik, warna dinding kelas memberikan rasa nyaman dan mendorong pelajar untuk lebih konsentrasi dalam menerima materi pelajaran di kelas. Tetapi apabila nilai-nilai tersebut diabaikan, akan melahirkan perasaan-perasaan yang menghilangkan bisa sangat mengganggu kenyamanan seseorang dalam aktivitasnya. Karyawan akan sangat tertekan apabila ditempatkan pada ruang kerja yang menjadikan mereka hanya sebagai perangkat perpanjangan mesin tanpa mengindahkan nilai-nilai kemanusiaannya. Jarak tempat duduk yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah antropometri dan ergonomi, akan menghilangkan motivasi belajar para siswa.

 

Panti weda merupakan salah satu contoh bagaimana nilai-nilai manusia diabaikan. Orang yang pindah di panti tersebut biasanya dilarang membawa perabotan pribadi. Padahal bagi sebagian orang-orang tua tersebut, kehadiran perabot menyimpan kenangan dan menjadi alat pengenal lingkungan yang diperlukan oleh mereka. Kepindahan menghilangkan “rumah” mereka; bangunan, orang-orang dan kenangan tidak lagi bersama mereka di tempat pengasingannya.

 

 

 

Dari penjelasan-penjelasan diatas dapat kita ambil beberapa kesimpulan :

1. Manusia adalah makhluk yang memiliki persepsi terhadap dirinya dan orang lain.

2. Persepsi tersebut lahir dari nilai-nilai yang diyakininya.

3. Nilai-nilai tersebut muncul dari pengalaman-pengalaman yang dialaminya dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam lingkungan hidupnya.

4. Nilai-nilai mempengaruhi lingkungan dan selanjutnya lingkungan mempenguri nilai-nilai.

 

Oleh sebab itu penataan lingkungan sangat memerlukan kajian psikologi sebagai disiplin ilmu. Kerjasama psikolog dan perancang lingkungan binaan sangat dibutuhkan untuk memberikan rasa kemanusiaan pada efek keberadaan bangunan-bangunan dan penataan lingkungan secara luas.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Halim, Deddy. 2005. “Psikologi Arsitektur :Pengantar Kajian Lintas Disiplin” Jakarta : Grasindo

 

Artikel :

Arief Sosiawan, Edwi. “Psikologi Sosial”

Alatas, Alwi. “Pendidikan Remaja dari Sudut Pandang Islam”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close