MODEL PEMROSESAN INFORMASI PADA ANAK

 

  1. A.    Pendahuluan

Alasan memilih topik tersebut ingin mengetahui pemrosesan informasi pada anak agar efektif, karena pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.

Mengingat perkembangan anak yang optimal adalah tujuan para psikolog perkembangan, maka sangat relevan jika individu-individu yang berkecimpung di bidang ini melakukan penelitian yang tujuannya bermuara pada meningkatkan kemampuan pemrosesan informasi.

  1. B.     POTENSI

Ada beberapa model yang digunakan untuk menjelaskan proses mengetahui pada manusia. Model pemrosesan informasi membahas tentang peran operasi-operasi kognitif dalam pengolahan informasi (Hetherington & Parke, 1986). Dalam model ini manusia dipandang sebagai sistem yang memodifikasi informasi sendiri secara aktif. Perkembangan seseorang dalam pemrosesan informasi berkaitan dengan perubahan-perubahan kuantitatif dan kualitatif dalam aspek ini pengaruh-pengaruh lingkungan. Inti dari perkembangan dalam pemrosesan informasi adalah terbentuknya sistem pada diri seseorang yang semakin terjangkau untuk mengontrol informasi (Miller, 1993).

 

Guru mengalokasikan waktu untuk pengulangan selama mengajar. Memori jangka panjang merupakan bagian dari sistem memori tempat menyimpan informasi untuk periode panjang. Dalam suatu kegiatan belajar, seseorang menerima informasi dan kemudian mengolah informasi tersebut di dalam memori. Atkinson dan Shiffrin (1968) mengajukan suatu teori atau model tentang pemrosesan informasi dalam memori manusia yang menyatakan bahwa informasi diproses dan disimpan dalam 3 (tiga) tahapan, yaitu Sensory Memory, Short-term Memory, dan Long-term Memory (Huit, 2003; Flavell, 1985; Woolfolk, 2004; Gagne, 1985).

Sensory Memory (SM)

Informasi masuk ke dalam pengolah informasi manusia melalui saluran sesuai dengan inderanya. Karena keterbatasan kemampuan dan banyaknya informasi yang masuk, tidak semua informasi bisa diolah. Informasi yang baru saja diterima ini disimpan dalam suatu ruang sementara yang disebut sensory memory.

Tahap pemrosesan informasi tahap pertama ini sangat penting karena menjadi syarat untuk dapat melakukan pemrosesan informasi di tahap berikutnya, sehingga perhatian pembelajar terhadap informasi yang baru diterimanya ini menjadi sangat diperlukan. Pembelajar akan memberikan perhatian yang lebih terhadap informasi jika informasi tersebut memiliki ciri khas yang menarik dan jika informasi tersebut mampu mengaktifkan pola pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge).

Long-term Memory (LTM)

Long-term memory merupakan penyimpanan yang permanen, yang dapat menyimpan informasi meskipun informasi tersebut mungkin tidak diperlukan lagi. Informasi yang tersimpan dalam long-term memory diorganisir ke dalam bentuk pengetahuan tertentu. Dengan demikian, keahlian seseorang berasal dari pengetahuan yang tersimpan dalam bentuk schema di dalam long-term memory.

Short-term Memory (STM) atau “Working Memory”

Short-term memory atau working memoryberhubungan dengan apa yang sedang dipikirkan seseorang pada suatu ketika menerima stimulus dari lingkungan. waktu informasi tersimpan di dalam short-term memoryadalah 15 – 20 detik. Durasi penyimpanan di dalam short-term memoryini akan bertambah lama, bisa menjadi sampai 20 menit,. Informasi yang masuk ke dalam short-term memorymenghilang ketika informasi tersebut tidak lagi diperlukan. Jika informasi dalam short-term memory ini terus digunakan, maka lama-kelamaan informasi tersebut akan masuk ke dalam tahapan penyimpanan informasi berikutnya, yaitulong-term memory.

  1. C.    MASALAH YANG MUNGKIN MUNCUL

Masalah yang sering muncul pada saat anak belajar:

  1. Melamun
  2. Becanda dengan teman saat proses belajar
  3. Pikiran kosong
  4. Mata Pelajaran yang tidak disukai sehingga anak tidak mau mengikuti proses belajar.
  5. Masalah yang dibawa ke tempat belajar
  6. D.    KEMATANGAN

Ketika proses belajar mengajar penginderaan menerima sejumlah besar informasi dari indera dan menyimpannya dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih dari dua detik. Bila tidak terjadi suatu proses terhadap informasi yang disimpan dalam penginderaan, maka dengan cepat informasi itu akan hilang.

 

 

Keberadaan penginderaan mempunyai dua implikasi penting dalam pendidikan.:

  1. Anak harus menaruh perhatian pada suatu informasi bila informasi itu harus diingat.
  2. Anak memerlukan waktu untuk membawa semua informasi yang dilihat dalam waktu singkat masuk ke dalam kesadaran.
  3. E.     KEBUTUHAN LINGKUNGAN BELAJAR

Anak dapat menganalisis informasi menurut cara-cara yang berbeda atau dengan cara masing-masing, dari proses yang paling dangkal hingga yang paling dalam saat proses belajar dikelas. Pemrosesan informasi pada tingkat yang lebih dalam akan meningkatkan penggalian kembali informasi di dalam ingatan karena adanya faktor yang menonjol  dan pemerincian.

Kognisi anak-anak akan baik pada proses belajar melalui tiga langkah

  1. Anak diajari orangtua atau guru untuk menggunakan strategi tertentu. Dalam latihan, mereka belajar tentang karakteristik dan keuntungan mempelajari pengetahuan spesifik.
  2. Guru bisa mendemontrasikan kesamaan dan perbedaan beberapa strategi dalam domain tertentu
  3. Murid mengetahui manfaat umum dari menggunakan strategi yang menghasilkan pengetahuan strategi umum.

Murid bisa terbantu jika guru mencontohkan strategi yang tepat dan menerangkannya secara lisan. Kemudian, murid berlatih menggunakan strategi itu, dengan dibimbing oleh guru sampai murid itu bisa melakukannya dengan lancar.

Guru mendorong murid untuk mengontrol efektivitas strategi baru mereka dibandingkan dengan penggunaan strategi lama dengan cara membandingkan kinerja pada ujian dan penilaian lainnya.

Guru tidak cukup hanya mengatakan “cobalah, kamu pasti akan menyukainya”; anda harus mengatakan, “cobalah, dan bandingkan”.

  1. PENGARUH TERHADAP KESIAPAN BELAJAR

Anak lebih siap untuk menerima informasi pada proses belajar mengajar dikelas maupun di luar kelas dengan menyimpan memory jangka panjang, dan membuat anak lebih mengerti atau bisa memperhatikan pemaparan guru saat proses belajar.

  1. G.    PENUTUP

Kesimpulan

Suatu proses berpikir secara umum, terdapat banyak hal yang terlibat dalam proses tersebut sejak awal. Diantaranya adalah peran ingatan atau memori serta perosesan informasi. Sudah semestinya perlu diketahui konsep tentang model ingatan dan pemrosesan informasi agar dapat melakukan analisa lebih jauh suatu proses berpikir. Mengingat perkembangan anak yang optimal adalah tujuan para psikolog perkembangan, maka sangat relevan jika individu-individu yang berkecimpung di bidang ini melakukan penelitian yang tujuannya bermuara pada meningkatkan kemampuan pemrosesan informasi

Model pemrosesan informasi berasumsi bahwa anak-anak mempunyai kemampuan yang lebih terbatas dan berbeda dibanding orang dewasa. Anak-anak tidak dapat menyerap banyak informasi, dalam hal informasi apa yang diserap, tidak mempunyai banyak strategi untuk mengatasi masalah, tidak mempunyai banyak pengetahuan mengenai dunia yang diperlukan untuk memahami masalah, dan kurang mampu memonitor kerja proses kognitifnya

Saran

Pemahaman dan penerapan yang benar mengenai pemrosesan informasi dalam hal ini di dunia pendidikan, maka diharapkan di masa yang sekarang dan yang akan datang ada perubahan yang berarti dalam pendidikan negara kita.

  1. H.    REFERENSI
  • Atkinson, R., & Shiffrin, R. Human Memory: A proposed system and its control processes, 1968.(Dalam K Spence & J Spence (Eds.). The psychology of learning and motivation: Advances in research and theory (Vol. 2). New York: Academic Press, 1968).
  • Gagne, Ellen, D. The Cognitive Psychology of School Learning. Boston: Little, Brown & Company, 1985.
  • Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta
  • Miller, P.H. 1993. Theories of Developmental Psychology (3rd Ed.). W.H. Freeman & Co., New York.
  • Putra, Yovan. 2008. Memori dan Pembelajaran Efektif. Bandung : Yrama Widya.
  • Santrock John W, 2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close