Persepsi Sosial

Persepsi Sosial
Menurut Brehm dan Kassin (1989), persepsi sosial adalah penilaian-penilaian yang terjadi dalam upaya manusia memahami orang lain. Tentu saja sangat penting, namun bukan tugas yang mudah bagi setiap orang. Tinggi, berat, bentuk tubuh, warna kulit, warna rambut, dan warna lensa mata, adala beberapa hal yang mempengaruhi persepsi sosial. Contohnya di Amerika Serikat, wanita berambut pirang dinilai sebagai seorang yang hangat dan menyenangkan.
Persepsi sosial terdiri atas tiga elemen yang merupakan petunjuk-petunjuk tidak langsung ketika seseorang menilai orang lain. Tiga elemen tersebut bersumber pada: pribadi (person), situasi (situation) dan perilaku(behavior). Proses pembentukan persepsi sosial berdasarkan penilaian pribadi, antara lain yang dilakukan dengan cepat, ketika melihat penampilan fisik seseorang. Termasuk di dalamnya jenis kelamin, usia, ras, latar belakang etnik, dan beberapa aspek demografi lain.
Sebagaimana kita percaya manusia terbagi dalam beberapa tipe, demikian pula kita memiliki konsep awal tentang beragam situasi berdasarkan pengalaman terdahulu. Situasi sering dianggap sebagai naskah kehidupan. Semakin banyak pengalaman yang orang miliki dalam satu situasi, maka semakin terperinci isi naskah yang disusunnya mengenai situasi tersebut. Ketika seseorang merasa sangat akrab dengan tipe situasi tertentu, maka peristiwa-peristiwa akan terletak tepat pada tempatnya, bagaikan potongan-potongan puzzle yang tersusun rapi. Hal ini berarti, semakin kaya pengalaman hidup seseorang, semakin bijak persepsi sosial yang dibentuknya dari situasi.
Elemen perilaku adalah mengidentifikasi perilaku yang diproduksi oleh aktivitas seseorang. Perilaku membutuhkan bukti-bukti yang dapat diamati. Ketajaman pengamatan seseorang menentukan persepsi sosial yang dibentuknya berdasarkan gejala-gejala perilaku orang lain. Orang mengandalkan perilaku nonverbal untuk menguatkan penilaiannya, namun sering kali hasilnya kurang akurat. Masalahnya terletak pada terlalu banyak perhatian yang ditujukan pada kata-kata dan ekspresi wajah. Tombol komunikasi sepenuhnya berada di bawah kendali orang yang dinilai, sehingga ia dapat mengatur kata-kata dan ekspresinya. Namun isyarat bahasa tubuh dan perubahan intonasi suara adalah petunjuk yang sangat berharga dalam proses persepsi sosial bersumber pada elemen perilaku.
Penelitian membuktikan persepsi sosial yang kita lakukan dalam upaya membangun relasi interpersonal sering cukup akurat, namun tidak selalu demikian. Dalam hal inilah perlu dilakukan pengasahan mendalam agar kita dapat lebih tajam menilai orang lain.
Tak kalah penting untuk dipahami adalah dua perbedaan radikal dalam pembentukan persepsi sosial. Pertama, proses yang cepat dan otomatis. Tanpa terlalu banyak berpikir, menimbang, berhati-hati, dengan cepat orang menilai orang lain berdasarkan penampilan fisik, naskah kehidupan yang telah tersusun sebagai konsep awal situasi, dan hasil pengamatan perilaku yang terjadi seketika.
Kedua, proses yang dilalui dengan penuh pertimbangan. Orang mengamati orang lain secara seksama dan menunda penilaian, sampai ia selesai menganalisis orang tersebut berdasarkan ketiga elemen persepsi sosial.
Pada dasarnya kedua cara yang berbeda dalam membentuk persepsi social sah-sah saja dilakukan. Adakalanya penilaian dibuat seketika.  Misalnya pada perjumpaan yang singkat. Namun pada saat lain diperlukan pertimbangan matang dan analisis yang panjang sebelum  persepsi dibentuk.
Tetap Perlu Berhati-hatikah?
Tentu saja kita tetap perlu berhati-hati. Penjelasan di atas  memberikan latar belakang yang layak diyakini betapa persepsi sosial  sangat penting dalam konteks hubungan antarmanusia. Persepsi sosial yang memproduksi prasangka, berpotensi untuk berlanjut dalam tindakan-tindakan tertentu yang dapat menguatkan keutuhan hubungan atau sebaliknya malah merusak dan memporakporandakan persatuan.
Bagaimana mungkin muncul tawuran antarpelajar, atau bahkan antarwarga, tanpa diawali persepsi sosial? Sayangnya saat ini orang semakin tidak sadar, bahkan hampir tidak mau tahu, bahwa persepsi sosial negatif atau  prasangka buruk yang dibentuknya mengenai orang atau kelompok lain, berkekuatan memicu perpecahan. Citra manusia sejati adalah manusia yang membangun persepsi sosial positif, tidak mudah menilai buku hanya dari sampulnya, namun juga waspada dalam bertindak. Artinya, tidak berprasangka buruk, namun juga tidak mudah terkecoh oleh penampilan. 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close