RESUME PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA

PENDAHULUAN

Pengantar Psikologi adalah salah satu mata kuliah populer dikampus-kampus seluruh Amerika. Dalam kuliah ini kita  menyajikan berbagai fakta, atau kebenaran yang terkumpul selama bertahun-tahun. Maka konseling lintas budaya akan dapat terjadi jika antara konselor dan klien mempunyai perbedaan. Kita tahu bahwa antara konselor dan klien pasti mempunyai perbedaan budaya yang sangat mendasar. Perbedaan budaya itu bisa mengenai nilai nilai, keyakinan, perilaku dan lain sebagainya. Perbedaan ini muncul karena antara konselor dan klien berasal dari budaya yang berbeda. Setiap konselor dan klien adalah pribadi yang unik. Unik dalam hal ini mempunyai pengertian adanya perbedaan perbedaan tertentu yang sangat dasar. Setiap manusia adalah berbeda (individual deferences).

Dengan menantang pengetahuan tradisional, tujuan buku ini adalah memperkenalkan pembaca pada psikologi seluruh dunia dan memberi perspektif mengenai psikologi dan perilaku manusia yang lebih sesuai dengan anda. Dalam melakukan hubungan konseling dengan klien, maka konselor sebaiknya bisa memahami klien seutuhnya. Memahami klien seutuhnya ini berarti konselor harus dapat memahami budaya spesifik yang mempengaruhi klien, memahami keunikan klien dan memahami manusia secara umum/universal (Speight, 1991).

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

  1. 1.      HAKIKAT PENGETAHUAN DALAM PSIKOLOGI

Tujuan paling penting Psikologi adalah untuk memahami perilaku manusia. Psikologi terutama mengandalkan penelitian ilmiah tentang manusia untuk mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana dan mengapa manusia bertingkah laku.Pada umumnya,sebelum kita mengakui sesuatu sebagai “kebenaran” dalam psikologi kita harus yakin terlebih dahulu bahwa penelitian yang menghasilkan kebenaran tersebut memenuhi standar-standar minimal ketepatan logika ilmiah.

Contoh parameter-parameter :

  1. Parameter yang berkait dengan sifat tugas (Task)
  2. Parameter yang terkait dengan lingkungan atau latar.
  3. Paremeter yang terkait dengan partisipan atau peserta suatu penelitian.

Pengetahuan yang kita peroleh dari suatu studi tunggal pasti terbatas karena dihasilkan hanya satu kali dibawah parameter-parameter tertentu. Berdasarkan proses penelitian dan penelitian-ulang (replikasi), yuang diterima ahli psikologi sebagai “kebenaran” umumnya adalah pengetahuan yang berhasil bertahan melewati tantangan waktu dan, dan lebih konkretnya, melewati ujian eksperimen jamak (Multiple experiment).

  1. 2.      Apa itu Psikologi Lintas Budaya dan bagaimana Dampaknya pada kebenaran-kebenaran Psikologi ?

            Psikologi lintas-budaya adalah cabang psikologi yang terutama menaruh perhatian pada pengujian berbagai kemungkinan batas-batas pengetahuan dengan mempelajari orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda. Sedangkan dalam arti sempit dapat di artiakan Penelitian lintas budaya berarti dilibatkannya partisipan dari latar belakang cultural yang berbeda dan pengujian terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya perbedaan antara partisipan tersebut.

Yang membedakan antara psikologis lintas-budaya dengan psikologis “tradisional” atau “mainstream” bukanlah fenomena yang diperhatikan. Perbedaanya lebih pada pengujian terhadap batasan-batasan atas pengetahuan dengan memeriksa apakah suatu pengetahuan bisa diterapkan atau didapatkan dari berbagai orang dengan latar belakang kultural yang berbeda. Dan dengan mendefinisikan psikologi lintas-budaya seperti ini, ahli psikologi dapat menerapkan teknik-teknik lintas budaya untuk menguji keuniversalan atau kekhasan-kultural (cultural specifity)semua aspek perilaku manusia. Budaya merupakan suatu konstruk individual-psikologis sekaligus konstruk sosial-makro”. artinya, sampai batas tertentu, budaya ada di dalam setiap dan masing-masing diri kita secara individual sekaligus ada sebagai konstruk sosial-global.

  1. 3.      Etik, Emik, Etnosentrisme dan Stereotip

Etik mengacu pada temuan-temuan yang tampak konsisten/tetap di berbagai budaya; dengan kata lain, sebuah etik mengacu pada kebenaran atau prinsip yang universal. Sedangkan, Emik mengacu pada temuan-temuan yang tampak berbeda untuk budaya yang berbeda; dengan demikian, sebuah emik mengacu pada kebenaran yang bersifat khas-budaya (culture-specific).

Etnosentrisme merupakan cara pandang dan penafsiran perilakunorang lain dari kacamata kultural kita sendiri. Sedangkan, Stereotip merupakan sikap, keyakinan, atau pendapat yang baku tentang orang-orang yang berasal dari budaya lain. stereotip berguna untuk menjadi dasar dalam melakukan penelitian, evaluasi, dan interaksi dengan orang dari budaya lain.

  1. 4.      Perlunya Memasukkan Isu-Isu Lintas Budaya dalam Mempelajari Psikologi Mainstream

Dua alasan mengapa isu-isu lintas budaya di anggap penting untuk dimasukan kedalam pengetahuan kita tentang psikologi. Alasan pertamanya adalah filsafat ilmiah, yaitu perlunya mengevaluasi kebenaran-kebenaran kita berdasarkan parameter-parameter yang melingkupi kebenaran-kebenaran tersebut, dan alasan kedua adalah memasukan lintas budaya ke dalam psikologi di anggap jauh lebih praktis.

  1. 5.   Definisi Operasional Konsep Budaya

Sebagaimana sudah kita bahas, sebagian besar ahli psikologis lintas budaya akan sepakat bahwa budaya merupakan sekumpulan sikap,nilai, perilaku dan keyakinan bersama, definisi ini adalah definisi yang psikologis, tidak bisa biologis, dan disinilah letak permaslahanya.

  1. 6.       Pengambilan Sampel

Dalam rancanan penelitian lintas-budaya yang paling sederhana, seorang peneliti mengambil sampel dari orang-oran dari suatu budaya, menambil data dari mereka, dan membandinkan data tersebut dengan data atau nilai-nilai lain yang telah diketahui.

Peneliti lintas budaya harus member perhatian khusus pada isu-isu sampling dalam menjalankan riset mereka, disamping ketidak mampuan untuk mengukur budaya pada level sosiopsikologis, bila inin menarik kesimpulan tentang perbedaan cultural dari suatu sampel, peneliti lintas budaya perlu memastikan bahwa para peserta penelitian mereka merupakan representasi yang memadai dari budayanya, apapun budaya itu.

  1. 7.      Kesetaraan/ekuivalensi Lintas Budaya

            Untuk melakukan penelitian lintas budaya yang valid, tidak cukup hanya dengan mendapatkan sample yang secara memadai mewakili budaya yang akan diteliti. Peneliti harus yakin bahwa sample yang mereka bandingkan sudah setara.

  1. 8.      Rumusan pertanyaan penelitian dan penafsiran data

            Dalam memahami penelitian lintas budaya , disadari bahwa pertanyaan yang diajukan oleh peneliti itu sendiri tak bebas budaya alias culture-bound . karena itu pertanyan tersebut bias saja bermakna bagi suatu budaya namun tidak bagi budaya lain. Perbedaan kultur yang ditemukan dari suatu penelitian yang mengajukan pertanyaan yang demikian pasti tercemar olehnya.

  1. 9.      Tentang bahasa dan penerjemahan

            Peneliti Lintas Budaya tidak seluruhnya dilakukan dalam bahasa inggris, Peneliti lintas budaya sering kali menggunakan prosedur terjemahan balik (back translation) untuk memastikan kesetaraan tertentu dalam protocol mereka. Dalam prosedur ini protocol dalam sebuah bahasa diterjemahkan kedalam bahasa lain, dan kemudian diterjemahkan kembali kebahasa semula oleh orang lain. Bila versi terjemahan baliknya sama dengan yang asli, maka disana terdapat kesetaraan tertentu. Bila ada ketidaksamaan, prosedur ini diulang sampai mendapat versi terjemahan balik yang persis sama dengan aslinya.

H. Lingkungan penelitian

            Dibanyak Universitas di Amerika Utara, mahasiswa peserta kuliahan pengantar psikologi diwajibkan untuk menjadi subjek peneliti sebagai sebagian syarat kelas tersebut. Karena hal ini sudah menjadi praktik yang mapan, ada semacam harapan dari siswa untuk berpartisispasi dalam penelitian sebagai bagian dari pengalaman akademik mereka. Banyak Negara lain tidak punya kebiasaan serupa. Mendatangi sebuah labolatorium universitas untuk menjalani eksperimen psikologi saja sudah punya makna yang bervariasi untuk budaya yang berbeda. Orang Amerika sudah sangat terbiasa dan tidak asing dengan proses ini, namun orang dari budaya lain barangkali tidak demikian, dan reaksi mereka dengan berada dilingkungan penelitian itu sendiri dapat mengganggu perbandingan lintas budaya. Persoalan ini juga harus diperhatikan oleh peneliti lintas budaya.

 

 

 

 

BAB II

BUDAYA DAN DIRI

 

  1. A.    Penjelasan tentang Diri
    1. 1.      Konsep Diri Independen

Banyak anekdot yang menunjukkan beragamnya penje­lasan tentang diri di budaya-budaya yang berbeda. Di Ame­rika, menonjolkan dan menampilkan diri adalah suatu hal yang baik. Ibaratnya, “roda yang berbunyilah yang dilumasi.” Tapi, di banyak kebudayaan Asia, kemungkinan besar anda akan mendapat hukuman bila menonjolkan diri “paku yang kurang tertanam akan dipukul sampai rata.”

  1. 1.    Konsep Diri Independen

Anekdot-anekdot di atas menunjukkan bahwa tampaknya orang memiliki berbagai gagasan, premis, atau konsep yang berbeda tentang diri, orang lain, dan hubungan antara diri dan orang lain (Markus & Kitayama, 1991a). Di banyak kebudayaan Barat, ada suatu keyakinan yang kuat tentang keterpisahan antar individu. Tugas normatif budaya-budaya ini adalah untuk mempertahankan independensi atau keman­dirian individu sebagai entitas yang terpisah dan self-con­tained (terbatas pada diri).

Di masyarakat Amerika, banyak orang dibesarkan untuk “menjadi unik,” “mengekspresikan diri,” “mewujudkan dan mengaktualisasikan diri yang sesungguhnya,” dan seterusnya. Kebudayaan Amerika menyediakan tugas-tugas seperti ini bagi anggotanya. Banyak dari tugas kultural yang ada dalam budaya Amerika saat ini dirancang dan diseleksi, melalui sejarah, untuk mendorong terbentuknya independensi atau ketidaktergantungan masing-masing diri yang terpisah. Dengan adanya tugas-tugas kultural seperti ini, pengertian orang Amerika tentang harga diri atau nilai diri pun mengambil bentuk yang khas. Ketika individu berhasil men­jalani tugas-tugas kultural ini, mereka akan sangat puas de­ngan dirinya. Harga diri mereka meningkat.

  1. 2.      Konsep Diri Interdependen

Berbeda dengan itu, banyak kebudayaan non-Barat yang tidak mengasumsikan ataupun menghargai keterpisahan yang kentara tersebut. Sebaliknya, budaya-budaya ini menekankan pada apa yang barangkali bisa disebut “kesalingterkaitan yang mendasar pada manusia.” Tugas normatif utama dalam budaya-budaya non-Barat adalah melakukan penyesuaian diri untuk menjadi pas dan mempertahankan interdependensi diantara individu. Dengan demikian, banyak individu dalam budaya-budaya ini yang dibesarkan untuk ”menyesuaikan diri dengan orang dalam suatu hubungan atau kelompok,” “membaca maksud orang lain,” “menjadi orang yang simpatik,” “menempati dan menjalani peran yang diberikan pada diri kita,” “bertindak secara pantas,” dan sebagainya. Hal-hal ini adalah tugas-tugas kultural yang dirancang dan terseleksi lewat sejarah suatu kelompok budaya untuk mendorong terjadinya interdependensi antara diri dengan orang lain.

  1. B.     Konsekuensi terhadap Kognisi, Emosi, dan Motivasi
    1. 1.      Konsekuensi terhadap Kognisi

Mengenal dan memahami orang dari budaya lain dari perspektif mereka sendiri menjadi hal yang semakin penting kalau kita ingin menjadi peserta dunia yang efektif.

Persepsi diri. Pemahaman diri yang berbeda punya konsekuensi terhadap bagaimana kita mempersepsi diri kita. Dengan pengalaman diri yang independen, atribut-atribut internal menjadi informasi paling penting dan paling relevan dengan diri. Atribut- atribut internal ini relatif kurang penting bagi mereka yang memiliki pemahaman diri yang interdependen, yang memikirkan diri lebih dalam konteks tertentu. Sesuai dengan pandangan kita tentang diri yang independen dan interdependen, subjek-subjek Amerika cenderung lebih sering menulis sifat-sifat abstrak dari pada subjek Asia (Bond & Tak-Sing,1983; Shweder & Bourne, 1984).

 

  1. 2.      Konsekuensi terhadap Emosi

Pemahaman diri yang berbeda punya beberapa konsekuensi penting terhadap pengalaman emosional. Dalam beberapa dekade terakhir ini, emosi lebih banyak dikaji sebagai mekanisme internal yang mempertahankan kondisi homeostatis dan meregulasi perilaku.

  1. a.      Konotasi Sosial Emosi

Kiyatama dan Markus (1994a) membedakan antara emosi-emosi yang mendorong independensi diri dan yang mendorong interdependensi.

Emosi-emosi yang terkait dengan konteks sosial (socially engaged emotions) diantaranya yaitu emosi positif yang berasal dari hasil pengalaman menjadi bagian dari suatu hubungan dekat yang kurang lebih bersifat komunal.

  1. b.      Konotasi Sosial dan Emosi Sosial Asli (Indigenous).

Meski ada banyak emosi yang sama secara lintas budaya, banyak juga yang relative unik atau khas pada kebudayaan tertentu (Russell, 1991). Emosi-emosi ini disebut sebagai emosi ingenous (asli).

Ada beberpa macam emosi yang dilaporkan dalam penelitian ini. Diantaranya yaitu :

  1. Emosi-emosi yang bersifat generic, seperti merasa tidak tegang, girang, dan tenang.
  2. Emosi-emosi yang memiliki konotasi sosial yang lebih spesifik. Baik terikat secara sosial (emosi yang socially engaged seperti perasaan bersahabat, hormat), maupun yang tidak terikat (Socially disengaged seperti rasa bangga, superior.

Bagi orang Amerika, emosi positif yang generik terkait terutama dengan pengalaman emosi yang tidak terikat secara sosial. Dengan kata lain, mereka yang mengalami emosi-emosi yang menandakan keberhasilan memenuhi tugas-tugas kultural independen (emosi-emosi yang lepas secara sosial seperti kebanggan) kemungkinan besar akan merasa “secara umum baik/senang.

 

  1. 3.    Konsekuensi Terhadap Motivasi

Perbedaan kultural dalam pemahaman diri juga mempengaruhi motivasi. Dalam pandangan barat, motivasi pada dasarnya bersifat internal di dalam si pelaku atau aktornya.  Ciri-ciri diri internal diantaranya motivasi seseorang untuk berprestasi atau mencapai sesuatu, untuk berafiliasi, atau untuk mendominasi. 

Motivasi Berprestasi (Achievement Motivation) mengacu pada penegrtian “hasrat akan pencapaian yang unggul”. Dalam pengertian yang luas hasrat semacam ini dapat di jumpai dibanyak budaya (Maehr & Nicholls, 1980).

 

BAB III

PERSEPSI

 

Persepsi adalah tentang memahami bagaimana kita menerima stimulus dari lingkungan dan bagaimana kita memproses stimulus tersebut. Secara lebih spesifik, sensasinya biasanya  mengacu pada stimulus atau perangsangan nyata pada organ-organ indera tertentu – mata (system visual), telinga (system pendengaran atau auditori), hidung (sistem penciuman atau olfaktori), lidah (pengecapan atau rasa), dan kulit (sentuhan). Persepsi biasanya dimengerti sebagai bagaimana informasi yang berasal dari organ yang terstimulasi diproses, termasuk bagaimana informasi tersebut diseleksi, ditata, dan ditafsirkan. Pendek kata, persepsi mengacu pada proses di mana informasi inderawi diterjemahjkan menjadi sesuatu yang bermakna.

         Penelitian lintas-budaya di bidang sensasi dan persepsi belum sebanyak bidang psikologi lain seperti perkembangan, perkembangan kognitif dan intelegensi, emosi, dan psikologi sosial.

 

 

 

 

Beberapa komentar umum tentang pengaruh budaya pada persepsi Persepi dan Relaitas

Salah satu hal yang harus disadari tentang persepsi adalah bahwa persepsi ktia atas dunia belum tentu mewakili secara persis realitas fisik dunia atau indera kita.

Persepsi kita tentang dunia yang “penuh” tidak selalu cocok dengan realitas fisik dari sensasi yang kita terima lewat system penglihatan kita.

Persepsi dan Pengalaman

Pengalaman dan keyakinan-keyakinan kita tentang dunia mempengaruhi apa yang kita persepsi. Kita juga ingin tahu apakah orang lain mempersepsi dunia dengan cara yang sama seperti kita. Kalau mereka melihat dunia secara berbeda, aspek-aspek mana dari pengalaman dan latar belakang, mereka yang bisa menjelaskan perbedaan-perbedaan tersebut? Persepsi kita juga berubah bila kita mengetahui lebih banyak tentang sesuatu.

PENGARUH-PENGARUH BUDAYA PADA PERSEPSI VISUAL

Sampai disini pembahasan kita menunjukkan bahwa situasi dan pengalaman yang berbeda bisa membuat banyak hal terlihat berbeda. Fenomena ini tentu saja menjadi landasan pemahaman kita tentang bagaimana budaya bisa mempengaruhi persepsi.

Pengetahuan Tradisional tentang Ilusi Visual

Ilusi optik, ada banyak kajian psikologi di bidang persepsi yang meneliti ilusi optik, yaitu persepsi yang mengandung diskrepansi atau perbedaan antara kenampakan sebuah benda dengan benda itu sesungguhnya.

Teori-teori dominan tentang ilusi optik

Carpentered World Theory atau teori lingkungan buatan menyatakan bahwa orang seperti halnya sebagian besar orang Amerikan terbiasa melihat benda-benda yang berbentuk kotak.

Kita sudah melakukan ini begitu lama sehingga kita tak lagi sadar bahwa kita menafsirkan berbagai benda seolah-olah berbentuk persegi padahal stimulus aktualnya tidak tegak lurus dengan mata kita.

Front Horizontal Foreshortening Theori atau teori pemendekan Horisontal Depan menyatakan bahwa kita menafsirkan garis vertical di mata kita sebagai garis horizontal yang terentang sampai kejauhan. Dengan demikian, kita akan menafsirkan garis vertical pada ilusi vertical/horizontal sebagai sebuah garis yang terentang menjauhi kita.

Kedua teori ini memiliki beberapa persamaan gagasan. Yang pertama adalah bahwa cara kita “melihat” dunia berkembang seirirng waktu melalui pengalaman kita. Karena itu apa yang kita lihat adalah kombinasi antara bagaimana sebuaj objek memantulkan cahaya ke mata kita dan hasil belajar kita tentang cara melihat secara umum.

Gagasan kedua yang ada pada kedua teori di atas adalah bahwa kita hidup di dalam sebuah dunia yang tiga dimensi yang terproyeksikan ke mata kita dalam bentuk dua dimensi.

 

BAB IV

KOGNISI

 

Kognisi sebenarnya adalah istilah umum yang mencakup seluruh proses mental yang mengubah masukan-masukan dari indra menjadi pengetahuan. Proses-proses ini mencakup persepsi, pemikiran rasional, dan seterusnya.

Meski kita mungkin mengira bahwa semua manusia mempunyai proses-proses mental dasar yang mirip, anda akan melihat bahwa orang-orang dari budaya yang berbeda mengorganisir, menyampaikan, dan merespon informasi secara berbeda-beda. Mereka juga berbeda dalam hal sejauh mana mereka berhasil mengembangkan kemampuan-kemampuan praktis tertentu dan dalam tingkat pendidikan formal gaya Eropa.

 

 

  1. A.    Kategorisasi dan Pembentukan Konsep Pengetahuan Tradisional

            Salah satu proses mental paling mendasar adalah cara bagaimana orang mengelompokkan hal-hal ke dalam kategori-kategori. Orang malakukan kategorisasi berdasarkan kemiripan-kemiripan dan kemudian melekatkan label-yaitu kata-kata – untuk mengelompokkan hal-hal yang kelihatannya punya kemiripan. Dengan demikian, orang menciptakan kategori-kategori dari hal-hal yang punya ciri-ciri tertentu. Misalnya, kursi bean-bag (kursi bantal), kursi makan yang tegap, dan kursi di ruang teater punya kenampakkan yang berbeda-beda, tapi tergolong dalam ketegori dasar yang sama, “kursi,” karena semua punya fungsi yang sama. Di budaya barat kalau orang mengatakan “Itu sebuah kursi,” artinya adalah bahwa benda tersebut bisa dan seharusnya digunakan untuk duduk (Rosh, 1978). Dalam contoh ini, penentu utama kategorinya adalah fungsi.

  1. B.     Kajian Lintas-Budaya tentang Kategorisasi
  2. 1.      Beberapa aspek universal kategorisasi

Penelitian lintas-budaya mengindikasikan bahwa beberapa kategori yang digunakan untuk berpikir dan menyampaikan informasi yang kurang relative tidak tergantung atau dipengaruhi budaya. Sebagai contoh, ekspresi wajah yang menandakan emosi-emosi dasar senang (happiness), sedih (sadness), marah (anger), takut (fear), terkejut (surprise), dan jijik (disgust) ditempatkan pada kategori-kategori yang sama diberbagai budaya. Orang tampaknya memiliki kecenderungan bawaan (predisposisi) untuk lebih memilih bentuk, warna, dan ekspresi-ekspresi wajah tertentu.

  1. 2.      Beberapa aspek kategorasi yang khas-budaya

Dalam mengkaji kategorisasi kita melihat bahwa pada area-area dimana pengalaman antar budaya tidak berbeda-beda seperti dalam hal warna, bentuk, dan ekspresi wajah, orang akan membuat pengelompokan dan penilaian yang serupa. Namun ketika ada perbedaan pengalaman kultural, orang dari budaya yang berbeda akan membuat penilaian yang sangat berbeda tentang berbagai hal.

Dasar dari proses-proses kategorisasi tidaklah berbeda, sedangkan yang berbeda adalah basis pengalaman yang digunakan untukmembuat kategori. Hanya dengan mempelajari proses-proses mental secara lintas budaya kita akan bisa melihat kemiripan maupun perbedaan dalam proses-proses mental ini. Salah satu cara lain yang digunakan peneliti untuk mempelajari bagaimana orang membuat pengelompokan adalah dengan menggunakan tugas penyortiran (sorting tasks).

  1. C.    Ingatan
  2. 1.      Pengetahuan Tradisional

Tugas intelektual penting lain yang dialami semua orang dalam menghadapi dunia adalah mengingat berbagai hal. Ada beberapa jenis ingatan, seperti ingatan sensori (inderawi), ingatan jangka pendek, dan ingatan jangka panjang. Ingatan sensoris mengacu pada informasi asli yang bertahan di organ-organ indra selama beberapa saat, biasanya hanya seper-sekian detik, setelah di terima. Ingatan jangka pendek mengacu pada suatu kapasitas ingatan yang terbatas dimana informasi bisa dipertahankan untuk selang waktu yang sedikit lebih panjang, biasa antara 20 sampai 30 detik. Ingatan jangka pendek mengacu pada masuknya informasi yang bisa di simpan untuk jangka waktu yang jauh lebih panjang. Pengulang-ulangan (rehearsal) adalah salah satu cara yang mudah untuk menyimpan informasi dalam ingatan jangka pendek dan kemudian ingatan jangka panjang. Pembongkahan (chunking) – yakin pengelompokan butir-butir informasi kedalam bagian-bagian kecil yang bermakna – juga bisa membantu penyimpanan dan penggunaan kembali informasi.

Dua aspek ingatan yang paling sering dikaji dalam psikologi eksperimental adalah efek urutan posisi yang terdiri dari efek awal (primacy) dan efek lahir (recency). Efek awal adalah kecenderungan kita untuk lebih mengingat hal-hal pertama dari suatau konteks daripada yang berada di tengah-tengah. Efek akhir adalah kecenderungan kita untuk mengingat dengan lebih baik hal-hal yang lebih akhir atau baru saja terjadi daripada yang sebelumnya.

 

 

  1. D.    Pemecahan Masalah Pengetahuan Tradisional

            Pemecahan masalah adalah proses dimana kita berusaha menemukan cara-cara mencapai suatu tujuan yang tampaknya tidak langsung bisa didapat. Jenis masalah yang berbeda mengarah pada jenis pemecahan yang berbeda pula. Masalah biasanya dipecahkam lewat beberapa cara. Misalnya, pemecahan masalah bisa dilakukan melalui proses coba-coba atau trial-and-error, yaitu dengan mencoba berbagai solusi sampai ada yang tampaknya berhasil. Orang juga bisa melakuknanya melalui analisis means/end atau cara/tujuan-akhir, yaitu dengan mengidentifikasi cara-cara yang bisa mengubah situasi saat ini ke arah yang mirip dengan hasil akhir yang di harapkan.Orang juga bisa memecahkan masalah dari belakang, memulai dari hasil akhir dan secara sistematis bekerja mundur sampai pada siyuasi saat ini. Tentu saja, selain itu semua ada pemecahan masalah yang terkait dengan perubahan insight-penemuan solusi yang tiba-tiba, yang sering terjadi setelah proses mencoba-coba atau  trial-and-error.

 

Penelitian Lintas-Budaya tentang Pemecahan Masalah

Para ahli psikologi berusaha mengisolasi proses pemecahan masalah ini dengan meminta orang-orang dari beberapa kebudayaan yang berbeda untuk menyelesaikan masalah-masalah yang belum mereka kenal dalam setting buatan. Dalam salah satu eksperimen seperti ini (Cole dkk., 1971), subjek-subjek Amerika dan Liberia diminta menggunakan sebuah alat yang memiliki berbagai tombol, panel, dan slot. Untuk membuka alat tersebut, agar mendapatkan suatu hadiah, para subjek eksperimen harus bisa melakukan dua prosedur yang terpisah –pertama , menekan tombol yang tepat untuk mengeluarkan sebuah kelereng, dan kemudian memasukkan kelereng tersebut kedalam slot yang tepat untuk membuka sebuah panel.

 

 

 

 

BAB V

PSKOLOGI PERKEMBANGAN

 

  1. A.      PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

Psikologi perkembangan adalah bidang psikologi yang menaruh perhatian pada perubahan dalam perilaku seiring berjalannya waktu.Tugas ahli psikologi perkembangan adalah untuk mendefinisikan dan menjelaskan jalannya perubahan developmental ini.Banyak perubahan developmental yang terjadi karena interaksi antara perubahan biologis dengan lingkungan tempat tinggal seorang individu.

Psikologi perkembangan mencakup berbagai macam topic: perkembangan pra-natal dan neo-natal, perkembangan motorik, perkembangan tempramen, perkembangan kelekatan dan kepribadian, perkembangan agresi, perkembangan kognitif dan sosio-emosional, struktur keluarga, dan gaya pengasuhan orang tua, penalaran moral dan masih banyak lagi.

  1. B.       TEMPERAMEN
  2. 1.    Pengetahuan Tradisional

Thomas dan Chess (1977) menggambarkan bahwa ada tiga kategori utama temperamen: gampangan, sulit dan lambat untuk memulai. Interaksi antara temperamen anak dengan temperamen orang tua tampaknya merupakan salah satu kunci perkembangan kepribadian. Reaksi-reaksi orang tua pada temperamen anak-anak mereka bias memacu kestabilan atau ketidakstabilan dalam respon-respon temperamental anak-anak itu terhadap lingkungan.

  1. 2.    Penelitian Lintas-Budaya tentang Temperamen

Chisholm (1983) berpendapat bahwa ada hubungan yang kuat antara kondisi saat ibu hamil dengan iritabilitas bayi.

Perbedaan temperamen yang khas untuk suatu kelompok budaya mengkin mencerminkan perbedaan-perbedaan genetic dan sejarah reproduksi.Interaksi antara respon orang tua dan temperamen bayi mungkin juda menjadi factor penting dalam perbedaan cultural.Tipe-tipe perbedaan yang muncul sejak lahir ini turut berperan dalam perbedaan kepribadian orang dewasa di budaya yang berbeda.

  1. C.  KELEKATAN
    1. 1.    Pengetahuan Tradisional

Kelekatan adalah ikatan khusus yang berkembang antara bayi dan pengasuhannya.Banyak para psikologi yang merasa bahwa kuaitas kelekatan ini punya efek seumur hidup terhadap hubungan seorang individu dengan orang-orang yang dicintainya. Kelekatan mendasari konsep kepercayaan dasar. Erikson (1963) menggambarkan formasi kepercayaan dasar sebagai langkah penting pertama dalam proses perkembangan psikososial yang berlangsung seumur hidup. Kelekatan yang buruk adalah komponen dari ketidak percayaan, kegagalan menyelesaikan kebutuhan-kebutuhan tahap perkembangan bayi.

  1. 2.    Penelitian Lintas-Budaya tentang Kelekatan

Asumsi orang amerika tentang sifat kelekatan adalah bahwa kelekatan ideal adalah kelekatan aman.Banyak peneliti lintas-budaya yang menentang pemahaman tentang kedekatan dengan ibu merupakan syarat untuk terbentuknya kelekatan yang aman dan sehat.

  1. D.  PENGASUHAN ORANG TUA, KELUARGA, DAN SOSIALISASI
    1. 1.    Pengatahuan Tradisional

Baumrind (1971) mengidentifikasikan tiga pola utama pengasuhan orang tua.Orang tua otoriter, orang tua yang permisif dan orang tua otoritatif. Banyak pengaruh terhadap perkembangan kita terjadi dalam hubunngan kita dengan orang selain orang tua kita.

  1. 2.    Penelitian Lintas-Budaya tentang Pengasuhan Orang tua, Keluarga dan Sosialisasi

Menjalankan peran sebagai orang tua dan pengasuhan anak dipengaruhi kadang secara sangat kuat oleh kondisi-kondisi kemiskinan.Lingkungan pengasuhan merupakan cermin dari seperangkat tujuan yang tesusun berdasarkan urutan nilai pentingnya. Yang pertama adalah kesehatan fisik dan pertahanan hidup, didukungnya perilaku-perilaku yang akan mengarah pada pemenuhan diri dan terakhir adalah perilaku-perilaku yang mendukung nilai-nilai cultural lain.

 

  1. E.  PENALARAN MORAL
    1. 1.    Pengetahuan Tradisional

Cara-cara anak memahami dunia mereka semakin lama menjadi konpleks.Perubahan kognitif ini juga berdampak pada berubahnya pemahaman mereka dalam penilaian moral.

Teori dominan tentang penalaran moral dalam psikologi perkembangan adalah teori yang diajukan oleh Kohlberg (1976, 1984).Teori Kohlberg didasarkan pada karya-karya Piaget sebelumnya tentang perkembangan kognitif.Teri Kohlberg melihat bahwa ada tiga tahap umum perkembangan keterampilan penalaran moral.

 

BAB VI

BAHASA DAN PEMEROLEHAN BAHASA

 

Bahasa adalah sarana utama untuk berkomunikasi dengan orang lain dan menyimpan informasi. Bahasa juga merupakan sarana utama dalam pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Bahkan, tanpa bahasa, budaya sebagaimana yang kita kenal tidak ada. Karena itu tidak mengejutkan kalau para ahli psikologi lintas budayalah yang punya minat khusus pada bahasa.

            Pemerolehan bahasa (language acquisition) adalah suatu aspek penting dalam psikologi bahasa karena pengetahuan tentang hal itu akan membantu kita dalam memahami siu-isu perilaku manusia yang lebih luas. Pemahaman tentang bagaimana bahasa diperoleh pun penting karena alasan-alasan praktis. Pentingnya mempelajari bahasa- dan hubungan antara bahasa budaya dan perilaku –tidak bisa diabaikan, terutama oleh mahasiswa psikologi Amerika. Secara umum orang Amerika terkenal tak peduli dengan bahasa selain bahasa inggris, sayangnya, ketidakpedulian ini seringkali disertai pandangan etnosentris tentang perlu tidaknya mempelajari, memahami dan menghargai bahasa, kebiasaan dan budaya-budaya lain.

2.1    Teori dan Pandangan Tradisional Tentang Bahasa

       Ciri-Ciri Bahasa

Ahli psikolinguistik biasanya mencoba menggambarkan bahasa dengan menggunakan 5 ciri atau fitur kiritis, seperti :

  1. Leksikon atau kosa kata. Kata kata yang ada dalam sebuah bahasa. Misalnya, pohon, makan, bagaimana dan pelan-pelan adalah di antara kosakata bahasa Indonesia.
  2. Sintaks dan tata bahasa (grammar) suatu bahasa mengacu pada sistem aturan yang mengatur bentuk kata dan bagaiman kata kata dirangkai agar dapat menghasilkan ujaranyang memiliki makna. Misalnya, bahasa Inggris punya aturan gramatikal yang mengharuskan kita menambahkan huruf s di belakang banyak kata untuk menunjukkan kejamakannya (misalnya bentuk jamak dari cat adalah cats).
  3. Fonologi. Sistem aturan yang mengatur bagaimana sebuah kata diucapkan (pronounciation atau “aksen”) dalam suatu bahasa. Dalam bahasa Indonesia bunyi pengucapan ular berbeda dengan pengucapan ulas.
  4. Semantik. Arti yang dimaksud oleh suatu kata. Meja dalam bahasa Indonesia mengacu pada benda berkaki empat yang permukaannya datar.
  5. Pragmatik. Sistem aturan tentang bagaimana bahasa digunakan dan dipahami dalam suatu konteks sosial. Sebagai contoh, ucapan “dingin sekali disini!” bisa diartikan sebagai pernyataan factual tentang temperature.

 

 

 

Hipotesis Sapir-Whorf      

Hipotesis Sapir-whorf menyatakan bahwa orang yang berbeda bahasa karena perbedaan bahasa ini berpikir secara berbeda. Karena budaya yang berbeda biasanya memiliki bahasa yang berbeda pula. Hipotesis Sapir-whorf penting dalam pemahaman kita terhadap perbedaan dan persamaan kultural dalam cara berpikir dan berperilaku sebagai fungsi bahasa.

Penelitian Lintas Budaya Tentang Hipotesis Sapir-Whorf

Dalam salah satu kajian paling awal tentang bahasa, Caroll dan Casagrande (1958) membanding orang yang berbahasa Navaho dan yang berbahasa Inggris. Mereka meneliti hubungan antara system klasifikasi bentuk dalam bahasa Navaho dengan tingkat perhatian anak-anak terhadap bentuk ketika melakukan klasifikasi benda-benda. Bahasa Navaho punya ciri gramatikal yang menarik karena kata-kata kerja yang berkenaan dengan melakukan sesuatu pada benda (seperti misalnya “mengangkat” atau “menjatuhkan”) punya bentuk yang berbed-beda tergantung pada benda apa yang dikenai perbuatan. Ada 11 bentuk linguistic untuk menggambarkan bentuk-bentuk yang berbeda-beda. Ada 1 bentuk untuk benda-benda yang bulat-spherical, ada yang untuk benda-benda bulat-lonjong, ada yang untuk benda-benda panjang yang tidak kaku, dan seterusnya.

Bahasa dan Perilaku Kasus Khusus Bilingualisme          

Diawal abad ke-20, banyak orang Amerika yang mengira bahwa mengetahui lebih dari satu bahasa adalah sesuatu yang harus dihindari. Yang umum dipercaya adalah bahwa manusia hanya punya “ruang” terbatas untuk menyimpan bahasa; kalau anda mempelajari “terlalu banyak” bahasa, anda akan mengambil “ruang” yang diperuntukan fungsi-fungsi lain seperti intelegensi.

Pemerolehan Bahasa           

Apakah pemerolehan bahasa itu bersifat bawaan atau dipelajari?

              Hingga saat ini belum ada yang mendapat jawaban yang jelas mengenai hal diatas. Bukti-bukti yang mengarah pada dugaan bahwa ada beberapa aspek dari pemerolehan bahasa yang dipelajari sedangkan yang lain bersifat bawaan.

              Salah satu mitos umum yang ada dibanyak budaya adalah anak-anak mempelajarai bahasa asli mereka dengan meniru atau mengimitasi bahasa tersebut dari mendengar dilingkungan sekitarnya, hal ini bukan strategi yang penting dalam mempelajari bahasa. Pembuatan hipotesis dan pengujian terhadap hal ini merupakan strategi yang penting yang digunakan anak di seluruh dunia untuk mempelajari bahasa ini mereka.

 

BAB VII

PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN INTELIGENSI

TEORI TAHAPAN PERKEMBANGAN KOGNITIF DARI PIAGET

Selintas Teori Piaget

            Perkembangan kognitif adalah bidang khusus dalam psikologi yang mempelajari bagaimana keterampilan berpikit berkembang, teori ini berfokus pada periode bayi sampai masa dewasa. Piaget berpendapat bahwa anak-anak berkembang maju melalui empat tahap seiring pertumbuhan mereka dari bayi sampai masa remaja:

  1. Tahap sensorimotor: dimulai sejak lahir sampai usia 2 tahun. Pencapaian terpenting pada tahap ini adalah didapatnya permanenesi objek- kemampuan untuk mengetahui bahwa suatu objek atau benda teteap ada meski sedanag tidak terlihat atau menghilang dari pandangan mata.
  2. tahap pra-operasional: dari usia 2 – 6 atau 7 tahun. Piaget mendefinisikan tahap ini berdasar lima sifat: konservasi, keterpakuan, ketidakberbalikan, egosentrisme, dan animisme.
  3. tahap operasional konkret: mulai usia 6 atau 7 tahun – 11 tahun. Selama tahap ini, anak-anak memperoleh keterampilan-keterampilan berpikir baru dalam mengahdapi benda dan kejadian-kejadian nyata.
  4. tahap operasional formal: dimulai dari sekitar usia 11 tahun – masa dewasa. Padatahap ini individu mengembangkankemampuan berpikir logis mengenai konsep-konsep abstrak seperti perdamaian, kebebasan dan keadilan.

 

INTELIGENSI: DEFINISI DAN KONSEP

Definisi-definisi Tradisional tentang Inteligensi di Psikologi Amerika

            Di Amerika Serikat istilah inteligensi mengacu pada sejumlah kemampuan, keterampilan, bakat, dan pengetahuan yang berbeda, yang secara umum mengacu padakemampuan kognitif atau mental. Dengan demikian, secara tradisional ada beberapa proses yang kita pandang mewakili inteligensi, seperti ingatan; kosakata;komprehensi atau pemahaman; kemampuan matematis; penalaran logis; dan hal-hal semacam itu.

Perbedaan cultural dalam Makna dan Konsep Inteligensi

            Orang Baganda dari Afrika Timur menggunakan kata obugezi untuk mengacu pada suatu kombinasi keterampilan-keterampilan mental dan social yang membuat seseorang menjadi tak mudah goyah, waspada, dan ramah ( Wober, 1974). Orang Djerma-Sonhai dari Afrika Barat memakia sebuah istilah yang bahkan lebih luas lagi maknanya, lakkal, yang merupakan kombinasi dari inteligensi, kecekatan, dan keterampilan social (Bisillat, Laya, Pierre & Pidoux, 1967). Kearena cara tiap budaya mendefinisikan inteligensi begitu berbeda, pengertian konsep ini sulit untuk dibandingkan dari satu masyarakat ke masyarakat lain dengan valid.

PENGARUH-PENGARUH KULTURAL PADA PENGUKURAN INTELIGENSI

            Tes-tes inteligensi modern pertama dikembangkan di awal 1900-an untuk mengidentifikasi anak-anak yang terbelakang mental. Beberapa orang merespon bahwa tes inteligensi bias dan tidak mengukur dengan akurat kemampuan mental orang dari budaya lain. Denagn begitu, kurang dari satu decade setelah diciptakan tes inteligensi, pengenaannya pada orang dari budaya berbeda sudah menjadi kontroversi politis.

            Pandangan lain yang dipegang sebagian ahli psikologi lintas budaya adalah bahwa tes-tes inteligensi memang mengukur perbedaan yang nyata antarmasyarakat yang berbeda, tapi perbedaan tersebut seharusnya tidak dipandang sebagai kekurangan satu budaya disbanding yangf lain.

 

BAB IX

PSIKOLOGI ABNORMAL

Bersama Down Torrell,San Fransisco State  University

            Budaya mnambahkan dimensi penting dalam pendekatan terhadap abnormalitas dan perawatannya ( Marsella,1979). Budaya punya peran dalam membentuk tidak hanya pengalaman individual atas gangguan psikolois,tapi juga respon individu tersebut pada teknik-teknik penjakaan dan perawatan.

Pandangan-pandangan Lintas Budaya tentang Abnormalitas

            Budaya-budaya yang memiliki kepercayaan adanya intervensi supranatural dapat membedakan dengan jelas antara kondisi-kondisi trans dan berbicara dengan arwah bisa diterima,dengan ketika perilaku yang sama akan dipandang sebagai tanda gangguan jiwa ( Murphy1976). Beberapa perilaku terkait psikosis

(Delusi dan Halusinasi),secara universal dipandang sebagai abnormal. (Murphy,1976). Kleinmenn dan Marsela berargumen bahwa abnormalitas dan normalitas adalah dua konsep yang bersifat kulturi. Kleinmenn(1988) mengindikasikan bahwa individu-individu Cina dan Afrika yang depresi melaporkan bahwa mereka mengalami lebih sedikit bersalah dan malu disbanding individu Eoro-Amerika dan Eropa yang depresi. Tapi Cina dan Afrika melaporkan lebih banyak keluhan somatic. Definisi abnormalitas itu universal atau relative secara cultural menjadi sumber kontroversi di bidang psikologi lintas budaya.

Penjangkaan dan perawatan Perilaku Abnormal di Berbagai Budaya

            Mencakup identifikasi dan menggambarkan gejala-gejala seorang individu dalam konteks lingkungan dan tingkat keberfungsian orang tersebut secara umum. Literature yang ada tentang standar teknik penjangkaan mengindikasikan kemungkinan adanya persoalan bisa atau keidakpekaan disuatu konteks cultural dipakai untuk menjangka perilaku dibudaya lain. Perawatan perilaku abnormal adalah untuk meringankan gejala dan membantu pasien menjaadi orang yang lebih sehat dan matang. …yang bisa menghadapi hidup dan permasalahan dengan lebih baik.tes psikologis sudah bagus dalam menguraikan metode-metode penjangkaan tradisional,skema-skema klasifikasi dan iagnosik,prosedur wawancara  dan observasi.

 

Beberapa Isu dalam Penjangkaan Lintas Budaya  atas Perilaku Abnormal

            Alat-alat itu mungkin akan menjadi tak bermakna dibudaya yang didefinisikan berbeda dan mereka bisa gagal mengangkap ekspresi-ekspresi khas budaya dari suatu gangguan. Instrument-instrumen iagnosik standar untuk mengukur gejala depresif juga bisa gagal menangkap ekspresi cultural dari depresi yang penting pada orang Afrika dan orang Amerika asli.

 

 

 

 

 

 

BAB X

PSIKOLOGI SOSIAL

            Psikologi social sebagai sebuah disiplin tidak dipandang pnya daya tarik atau nilai yang setinggi cabang-cabang psikologi lainnya. Ada perbedaan dalam bagaimana budaya memandang hubungan antar individu dan kelompok.

Atribusi

            Atribusi adalah kesimpulan atau inferensi yang diambil orang tentang apa yang nmenjadi penyebab suatu kejadian dan perilaku diri maupun orang lain.  Atribusi netral adalah atribusi yang memandang bahwa penyebab prilaku ada dalam diri pelakunya. Atribut eksternal adalah atribusi yang memandang penyebab perilaku berada diluar diri seseorang.

Pengetahuan Berdasar Penelitian di Amerika

            Orang mengatribusikan suatu perilaku pada faktor-faktor penyebab yang ada bersamaan dengan munculnya perilaku tersebut namun tidak ada ketika perilaku itu tidak muncul. Ketika menarik suatu atribusi harus mmpertimbangkan tiga informasi yaitu :

  1. Konsistensi,mengacu pada sejauh mana perilaku seseorang dalam situasi tertentu konsisten atau sama.
  2. Kekhususan,mengacu pada apakah perilaku seseorang itu unik
  3. Konsesus,mengacu pada apakah seseoranag ketika berada dalam situasi yang sama,cenderung merespon dengan cara yang sama.

            Peneltian mengenai bias atribusi bicara tentang sifat atribusi diAmerika yang terikat budaya. Kesalahan atribusi mnendasar misalnya merupakan kecenderungan untuk menjelaskan perilaku orang lain.

 

Temuan-temuan Lintas Budaya tentang Atribusi

            Mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan dan cultural dalam membuat atribusi atas perilaku orang lain maupun kita sendiri. Crittteden (1991),menunjukan wanita Taiwan menggunakan atribusi eksternal dan self effacing tentang diri kebanding wanita Amerika. Kashima dan Triandis (1986) menunjukan bahwa orang jepang menggunakan gaya atribusi yang jauh lebih berorientasi kelompok dan kolektif. Forgas,Furnham dan Frey (1989) mencatat adanya perbedaaan lintas bangsa yang cukup besar dari nilai penting berbagai tipe atribusi khusus tentang kemakmuran.tom and Cooper (1986) meneliti atribusi 25 guru sekolah dasar kulit putih tentang prestasi siswa dari kelas social,ras dan gender yang beda.

            Penelitian lintas budaya tentang atribusi in toto belum menghasilkan gambaran yang jelas dan konseiten tentang sifat atribusi atau proses-proses atribusional pada semua budaya dan ras.

Ketertarikan Interpersonal dan Cinta

            Mencakup berbagai pengalaman termasuk rasa mencintai,ketertarikan seksual dan cinta. Penelitian di Amerika telah menghasilkan beberapa temuan menarik. Disini ada perbedaan cultural dalam ketretarikan dan cinta.

Konformitas,Ketundukan dan Kepatuhan

            Konformitas mengacu pada sikap mengalah pada tekanan social. Ketundukan sebagai sikap mengalah orang pada tekanan social dalam kaitannya dengan perilaku soaial mereka,meski mungkin keyakinan pribadi mereka tidak berubah. Kepatuhan merupakan salah satu bentuk ketundukan yang muncul ketika orang mengikuti suatu perintah langsung,biasanya seseorang dengan suatu posisi otoritas.

 

 

Pengetahuan Berdasar Penelitian di Amerika

            Faktor yang paling berpengaruh adalah ukuran kelompok dan derajat kesepakatan kelompok. Konformitas paling muncul ketika kelompok dalam eksperimen sepakat dalam penilaian mereka. Dalam penelitian Asch ketundukan merupakan hasil dari tekanan yang halus dan tak langsung atau implicit.

Temuan Lintas Budaya tentang Konformitas,Ketundukan dan Kepatuhan

            Hadiyono dan Hahn (1985) menunjukan bahwa orang Indonesia lebih menyetujui konformitas daripada daripada orang Amerika.cashmore dan Goodnow (1986) bahwa orang Italia lebih menyetujui konformitas daripada daripada orang Australia. Buck,Newton (1984) menunjukan bahwa orang Jepang lebih menyetujui konformitas daripada orang Amerika.

Argyle,Henderson,ond,Lizuke dan Contarello (1986) menunjukan bahwa orang Jepang dan Hongkong lebih menyetujui kepetuhan  daripada orang Inggris dan Italia.

Perilaku Kelompok : Produktivitas Versus Sosial Loafing

            Penelitian tentang perilaku kelompok punya pengaruh pada situasi dan isu-isu kehidupan nyata dan menjadi basis bagi banyak teknik intervensi terutama dalam psikologi organisasi dan industri.

Persepsi Orang dan Pembentukkan Kesan

            Persepsi orang mengacu pada proses pembentukan kesan tentang orang lain. Penting karena pengaruhnya kesan dan perepsi tentang orang lain pada bagaimana kita berinteraksi dan menghadapai orang lain.

 

 

Kesimpulan

Dalam menantang pengetahuan tradisional, kita tidak bisa mengabaikan nilai-nilai penting yang dikeluarkan untuk menghasilkan. Mengabaikan materi yang telah dilakukan untuk menghasilkan nya adalah tindakan yang tidak peka, dan tidak ada tempat bagi ketidakpekaan dalam dunia akademik. Dapat disimpulkan bahwa Psikologi lintas-budaya adalah cabang psikologi yang terutama menaruh perhatian pada pengujian berbagai kemungkinan batas-batas pengetahuan dengan mempelajari orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda. Sejak semula buku ini tidak dimaksudkan sebagai sumber utama mempelajari kebenaran dalam psikologi. Melihat adanya cara alternatif untuk memandang orang dan kita bisa mengenali, memahami, dan menghargai psikologi orang dari latar belakang yang berbeda.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close