PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING

Bimbingan dan Konseling merupakan bidang layanan kepada peserta didik (student service), layanan untuk membantu mengoptimalkan perkembangan mereka. Tanpa pembelajaran sekolah anak-anak dan remaja akan berkembang, tetapi perkembangan nya sangat minim. Dengan pembelajaran sekolah perkembangannya akan jauh lebih tinggi, dan ditambah dengan pemberian layanan bimbingan dan konseling perkembangannya diharapkan mencapai titik optimal, dalam arti setinggi-tinggi nya sesuai dengan potensi yang dimiliki (Sukmadinata, 2007).

Pembentukan karakter merupakan kebutuhan asasi dalam proses berbangsa dan bernegara. Dasim, et al. (2011:55) menjelaskan kebijakan pemerintah dalam menetapkan pendidikan karakter sebagi misi pertama dari delapan misi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 perlu didukung dan implementasikan oleh berbagai komponen masyarakat sesuai dengan bidangnya masing-masing, termasuk di dalamnya oleh kalangan pendidikan.

Selanjutnya menurut Kartadinata (2010:43) pendidikan karakter harus dikembangkan dalam bingkai utuh Sistem Pendidikan Nasional sebagai rujukan normatif. Proses pendidikan karakter akan melibatkan ragam aspek perkembangan peserta didik, baik kognitif, konatif, afektif, maupun psikomotorik sebagai suatu keutuhan (holistik) dalam konteks kehidupan kultural. Pendidikan karakter adalah pendidikan sepanjang hayat, sebagai proses perkembangan ke arah manusia kaafah. Pendidikan pengembangkan karakter adalah sebuah proses berkelanjutan dan tak pernah berakhir (never ending process) selama sebuah bangsa ada dan ingin tetap eksis. Pendidikan karakter memerlukan keteladanan dan sentuhan mulai dari sejak dini sampai dewasa. Pembentukan karakter perlu keteladanan, perilaku nyata dalam setting kehidupan otentik dan tidak bisa dibangun secara instan. Oleh karena itu pendidikan karakter harus menjadi sebuah gerakan moral yang bersifat holistik, melibatkan berbagai pihak dan jalur, dan berlangsung dalam setting kehidupan alamiah.

Banyak pakar, filsuf, dan orang-orang bijak yang mengatakan bahwa faktor moral adalah hal utama yang harus dibangun terlebih dahulu agar bisa membangun sebuah masyarakat yang tertib, aman dan sejahtera. Salah satu kewajiban utama yang harus dijalankan oleh para orang tua dan pendidik adalah melestarikan dan mengajarkan nilai-nilai moral kepada anak-anak. Nilai-nilai moral yang ditanamkan akan membentuk karakter yang merupakan fondasi penting bagi terbentuknya sebuah tatanan masyarakat yang beradab dan sejahtera (Megawangi, 2004:1).

Menurut Daradjat (1971:13) faktor-faktor yang menyebabkan merosotnya karakter generasi muda saat ini adalah sebagai berikut.

  1. Kurang tertanamnya jiwa agama pada tiap-tiap orang dalam masyarakat.
  2. Keadaan masyarakat yang kurang stabil, baik dari segi ekonomi, sosial, dan politik.
  3. Pendidikan moral tidak terlaksana menurut mestinya, baik di rumah tangga, sekolah maupun masyarakat.
  4. Suasana rumah tangga yang kurang baik.
  5. Banyaknya tulisan-tulisan, gambar dan siaran-siaran kesenian yang tidak mengindahkan dasar-dasar dan tuntutan moral.
  6. Kurang adanya bimbingan untuk mengisi waktu terluang dengan cara yang baik, dan yang membawa kepada pembinaan moral.

Megawangi (2009:93) menjelaskan pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik siswa agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya. Nilai-nilai karakter yang perlu ditanamkan kepada siswa adalah nilai-nilai universal yang dijunjung tinggi oleh seluruh agama, tradisi, dan budaya. Nilai-nilai universal harus menjadi perekat bagi seluruh anggota masyarakat walaupun berbeda latar belakang budaya, suku, dan agama.

Pendidikan karakter yang efektif memerlukan pendekatan komprehensif, dan terfokus dari aspek guru sebagai β€œrole model,” disiplin sekolah, kurikulum, proses pembelajaran, manajemen kelas dan sekolah, integrasi materi karakter dalam seluruh aspek kehidupan kelas, kerjasama orang tua dan masyarakat dan sebagainya.

Brooks dan Goble (1997) menjelaskan pendidikan karakter yang secara sistematis diterapkan dalam pendidikan dasar dan menengah merupakan sebuah daya tawar berharga bagi seluruh komunitas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close